Monday, March 31, 2014

Bisa Untuk Main-main Dulu

Main-main Mengumpulkan Botol Plastik Bekas
 
Belajar mengumpulkan sampah.  Memangnya mengumpulkan sampah perlu belajar? :)  Mungkin lebih pas membangun kebiasaan mengumpulkan & mengelola sampah.  Paling tidak mulai dari sampah bekas konsumsi sendiri jadi tidak terasa jorok atau jijik ya.  Alhamdulillah anak-anak mulai bisa belajar mengumpulkan sampah botol minuman bekas mereka sendiri.  Di rumah, di sekolah ataupun di rumah keluarga yang lain.  Mudah-mudahan jadi kebiasaan baik.  Sampah botol plastik yang sudah terkumpul sebelum "disingkirkan" malah dibuat main dulu.  Ada yang mereka coba buat jadi kereta-keretaan, hiasan (atau muatan ya?) sepeda, alat musik, mobil-mobilan (dibantu untuk melubangi).  Bebas dulu.  Tidak dikasih contoh atau instruksi, karena memang belum sempat cari-cari referensi.  Tapi lumayan juga imajinasi mereka.

Hal yang perlu diingat adalah keteladanan.  Jangan sampai kita di depan anak-anak buang sampah sembarangan.  Nanti ditiru.  Kasihan mereka.  Misalnya nanti mereka dapat kesempatan belajar atau bisnis di luar negeri, bisa-bisa mereka kena masalah karena terbiasa berperilaku buruk buang sampah sembarangan.  Di Singapura, juga di Jepang kayaknya ada dendanya.  Kabarnya di Jepang malahan ada semacam pelatihan singkat wajib untuk warga asing belajar memilah sampah sampai 28 kategori!!  

Wednesday, March 12, 2014

Membantu Mengubah Perilaku Kita: Belajar Sampah dari Perusahaan Kereta

Saya bukan expert atau ahli apapun (setidaknya saat ini sih rasanya belum).  Tapi saya senang mengamati.  Terkadang tertarik juga mencatat dan menganalisa (amatiran).  Misalnya dalam perjalanan menggunakan kereta saya merasakan berbagai hal yang menurut saya menarik.  Perusahaan kereta kita PT Kereta Api Indonesia tampaknya sungguh berupaya meningkatkan pelayanan, dan dalam beberapa hal juga mungkin berupaya memperbaiki perilaku para pengguna kereta.

Ketika kita datang ke stasiun beberapa tahun lalu, kesan yang biasa kita rasakan adalah (agak) kumuh, tidak tertib dan sederet kesan negatif lain.  Masuk parkiran, deretan pedagang dan saudara-saudara kita lain dari berbagai profesi berkumpul memadati halaman stasiun.  Sampai di loket, antrian tidak jelas dan semua orang berebut berteriak ke petugas loket.  Sampah berceceran, tempat sampah tidak jelas rimbanya setali tiga uang dengan petugas kebersihan.  Naik kereta, lagi-lagi bertemu sampah di berbagai sudut.  Sampah sering (pura-pura) dibersihkan dengan cara disapu sepanjang gerbong oleh saudara-saudara kita yang berusaha meminta (paksa) uang dari penumpang yang kasihan.  Bukannya iba, sebagian penumpang malah merasa terganggu karena memang debu dan sampah jadi beterbangan masuk ke pernafasan.  Sampai di ujung gerbong pun sampah itu oleh para 'petugas' tadi didorong saja keluar kereta lewat celah gerbong.

Tapi itu dulu.  Sekarang?  Jauuuh lebih baik.  Masuk area stasiun, kendaraan kita mudah parkir.  Halaman lumayan bersih.  Pedagang ya memang jadi jauh aksesnya ya, tapi mungkin jika sudah ada integrasi antar moda transportasi (bahasa pengamat) pedagang bisa dapat tempat yang layak dan laris juga.  Dalam stasiun tempat sampah besar tersedia lengkap dengan label sign system.  Tiket?  Jangan ditanya.  Tertib antri.  Petugas mengawasi dan sesama calon penumpang pun mulai berani saling mengingatkan (baca: menegur).  Sebagian penumpang kereta jarak jauh malah sudah memesan tiket secara daring (online) atau melalui berbagai channel distribusi tiket lain.  Ada juga semacam ATM tiket, self-print kalau tidak salah.  Artinya dengan investasi di sistem tiket elektronik secara keseluruhan, PT Kereta Api Indonesia juga berinvestasi untuk mengubah perilaku pengguna jasa kereta.  Kebiasaan tertib antri, akuntabilitas 'pertiketan' dan kebersihan tampaknya juga merupakan dampak atau mungkin hasil dari investasi tersebut.  Stasiun dan kereta bersih.  Penumpang juga tampak mulai belajar.  Yang terbiasa tertib dan bersih senang difasilitasi, yang belum biasa tertib dan bersih diajari dan diberi contoh.

Cerita yang paling menarik buat saya bukan di KRL Commuterline tapi di kereta jarak jauh.  Masuk gerbong, bersih.  Selama perjalanan sampah mulai bertebaran dari bungkus makanan dan minuman.  Penumpang yang biasa tidak tertib dan bersih santai membuang aneka bungkus ke lantai, sementara yang biasa tertib mengumpulkan di kantung plastik masing-masing.  Setelah beberapa jam perjalanan, datang dua petugas kebersihan membawa sapu, pengki dan kantung sampah polybag besar.  Mereka mengumumkan "Silakan yang mau buang sampah." Sebagian penumpang cepat memasukkan sampah ke kantung sampah, sebagian lagi dengan sungkan mengangkat kaki membiarkan sampah di bawah kursi dia disapu.  Kantung sampah kemudian diletakkan di dekat pintu kereta, dan ketika kereta berhenti di stasiun kantung tersebut sudah dikeluarkan.  Setidaknya dua kali selama perjalanan petugas sampah datang membersihkan seperti itu.  Di akhir perjalanan menjelang masuk stasiun akhir, petugas kebersihan datang lagi sweeping sampah di kolong bangku.  Dahsyatnya lagi ketika ada seorang ibu yang ingin memberikan tips untuk salah satu petugas, petugas tersebut menolak "Terima kasih Bu.  Tidak usah.  Berikan sama yang lain saja."  Luar biasa.  Pelajaran berharga buat saya dan anak saya yang ikut dalam perjalanan itu.  Lebih mudah sekarang mengingatkan anak saya untuk buang sampah di tempat yang benar.

Sukses untuk PT Kereta Api Indonesia.


Sampah Mulai Bertebaran


Sampah di Bawah Bangku

Kantung Sampah di Dekat Pintu

Catatan sedikit:
Pembuangan sampah tubuh (hasil metabolisme tubuh kita) juga perlu dicarikan solusi.  Untuk toilet-kamar mandi memang sudah lumayan bersih.  Air juga tampak selalu tersedia.  Hanya saja saluran pembuangannya kelihatannya masih perlu dibuatkan sistem yang lebih tepat biar tidak 'bablas' begitu saja :)

       

Tuesday, March 11, 2014

Bisa untuk Belajar Kebaikan: Belajar Bersama dengan Sampah

Bagaimana mengajarkan kebaikan?  Tentu dengan teladan terbaik.  Ketika kita ingin memberikan pendidikan terbaik untuk putra-putri kita, apakah yang menjadi pertimbangan?  Apakah kurikulum terbaik, fasilitas terbaik, guru-guru terbaik ataukah nama besar suatu lembaga pendidikan?  Ke mana kita menitipkan putra-putri kita?  Sesungguhnya di mana pun putra-putri kita belajar, bagian terbesar pendidikan mereka tetaplah menjadi tanggung jawab kita sebagai orangtua.  Orangtualah yang harus menjadikan diri sebagai teladan yang baik untuk anak-anak.  Tak bisa kita pilihkan sekolah terbaik, lalu tinggal pergi begitu saja.  (Mungkin ada yang bisa, Wallahu a'lam).

Lalu bagaimana menanam kebaikan dengan sampah?  Sadar atau tidak sadar perilaku terbentuk dari kebiasaan.  Ternyata banyak kebiasaan yang bisa kita latih dengan memanfaatkan sampah.  Kalau kita ingin putra-putri kita belajar bertanggung jawab, sampah bisa menjadi alat bantu yang bagus.  Kalau kita ingin putra-putri kita belajar kreatif, sampah pun bisa dimanfaatkan.  Kalau kita ingin putra-putri kita belajar amal salih, sampah juga bisa kita gunakan.  Rasanya banyak sekali yang bisa kita eksplorasi dari sampah.  Tentunya bersama-sama dengan kita yang juga belajar menjadikan diri sebagai teladan, tidak hanya sekedar bicara atau memberi perintah.  Saya sendiri coba meniatkan belajar bersama keluarga memanfaatkan sampah.

Banyak kesempatan untuk belajar bersama.  Salah satunya dalam perjalanan seperti ini: 


Kereta kelas ekonomi biasanya jadi cermin kita dalam hal sampah.  Sungguh pas buat belajar bersama tentang sampah!  Alhamdulillaah!